Ya Allah, Atas KemuliaanMu,KeagunganMu dan Belas EhsanMu limpahkan lah hidayahMu kepada kami,semuga kami semua berjumpa dengan sebenar-benar jalan untuk kami pulang kesisiMu........
Fekah tanpa tasauf fasik,Tasauf tanpa fekah zindiq
Fekah tanpa tasauf fasik,Tasauf tanpa fekah zindiq
Friday, December 16, 2011
Para Wali Allah Saling mengenal di alam ruhani
Al Imam al Alim al Alamah al Arif Billah Muhadits al Musnid al Mufasir Qutb al Haramain Syeikh Muhammad al Maliki al Hasni al Husaini as Syadzili Mekah menyebutkan bahwa Syekh Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin adalah Sulthonul Awliya fi hadza zaman bahkan beliaupun menyebutkan Qoddasallahu Sirrohu bukan Rodliyallohu ‘anhu seperti yang kebanyakan disebutkan oleh para ikhwan. Walaupun secara dhohir Syekh Muhammad Alawy Al-Maliki belum bertemu dengan pangersa Abah namun keduanya telah mengenal di alam ruhani yang tak dibatasi ruang dan waktu.
Mereka yang memperjalankan diri kepada Allah Azza wa Jalla akan saling mengenal di alam ruhani yang tak dibatasi ruang dan waktu.
Rasulullah adalah manusia yang paling utama, paling mulia, paling dekat dengan Allah Azza wa Jalla. Beliau termasuk salah satu manusia yang telah kasyaf.
Kasyaf terbukanya hijab atau tabir pemisah antara hamba dan Tuhan. Allah membukakan tabir bagi kekasih-Nya untuk melihat, mendengar, merasakan, dan mengetahui hal-hal ghaib.
Mereka yang kasyaf dapat mengetahui atau mengenal siapa-siapa yang melakukan “perjalanan” kepada Sang Kekasih , Allah Azza wa Jalla. Inilah yang dikiaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan perkataannya yang artinya “aku mendengar derap sandalmu di dalam surga”.
Bilal ra memperjalankan dirinya kepada Allah ta’ala dengan amal kebaikan berupa selalu menjaga wudhunya dan menjalankan sholat selain sholat yang telah diwajibkanNya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada Bilal ketika shalat Shubuh: “Hai Bilal, katakanlah Kepadaku apakah amalanmu yang paling besar pahalanya yang pernah kamu kerjakan dalam Islam, karena tadi malam aku mendengar derap sandalmu di dalam surga? ‘ Bilal menjawab; ‘Ya Rasulullah, sungguh saya tidak mengerjakan amal perbuatan yang paling besar pahalanya dalam Islam selain saya bersuci dengan sempurna, baik itu pada waktu malam ataupun siang hari. lalu dengannya saya mengerjakan shalat selain shalat yang telah diwajibkan Allah kepada saya.” (HR Muslim 4497)
Dalam suatu riwayat. ”Qoola A’liyy bin Abi Thalib: Qultu yaa Rosuulolloh ayyun thoriiqotin aqrobu ilallohi? Faqoola Rasullulohi: dzikrullahi”. artinya; “Ali Bin Abi Thalib berkata; “aku bertanya kepada Rasullulah, jalan/metode(Thariqot) apakah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah? “Rasullulah menjawab; “dzikrullah.”
Apa yang dilakukan oleh Bilal ra, selalu menjaga wudhunya atau selalu menjaga dalam keadaan bersuci adalah termasuk dzikrullah atau amal kebaikan atau perbuatan yang dilakukan bukan atas diwajibkan oleh Allah Azza wa Jalla namun atas kesadaran diri. Ini adalah salah satu bentuk memperjalankan diri kepada Allah ta’ala atau mendekatkan diri kepada Allah untuk mendapatkan cintaNya atau ridhoNya
Dalam sebuah haditas Qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah berfirman; Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya, dan hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan (amal ketaatan), jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan kebaikan (amalan sunnah), maka Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya. (HR Muslim 6021).
Dalam hadits qudsi, “Allah berfirman yang artinya: “Para Wali-Ku itu ada dibawah naungan-Ku, tiada yang mengenal mereka dan mendekat kepada seorang wali, kecuali jika Allah memberikan Taufiq HidayahNya”
Abu Yazid al Busthami mengatakan: Para wali Allah merupakan pengantin-pengantin di bumi-Nya dan takkan dapat melihat para pengantin itu melainkan ahlinya.
Sahl Ibn ‘Abd Allah at-Tustari ketika ditanya oleh muridnya tentang bagaimana (cara) mengenal Waliyullah, ia menjawab : “Allah tidak akan memperkenalkan mereka kecuali kepada orang-orang yang serupa dengan mereka, atau kepada orang yang bakal mendapat manfaat dari mereka – untuk mengenal dan mendekat kepada-Nya.”
As Sarraj at-Tusi mengatakan : “Jika ada yang menanyakan kepadamu perihal siapa sebenarnya wali itu dan bagaimana sifat mereka, maka jawablah : Mereka adalah orang yang tahu tentang Allah dan hukum-hukum Allah, dan mengamalkan apa yang diajarkan Allah kepada mereka. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang tulus dan wali-wali-Nya yang bertakwa.
Rasulullah shallallahu aliahi wasallam : Sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Swt seorang dari shahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka. Nabi shallallahu aliahi wasallam menjawab dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)
Hadits senada, dari ‘Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah shallallahu aliahi wasallam
“Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada.”Seorang laki-laki bertanya : “siapa mereka itu dan apa amalan mereka?”mudah-mudahan kami menyukainya. Nabi bersabda: “yaitu Kaum yang saling menyayangi karena Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan karena hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia,” kemudian beliau membaca ayat : ” Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Yunus [10]:62 )
Tentang derajat/tingkatan para Wali Allah telah diuraikan dalam tulisan padahttp://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/05/2011/09/28/maqom-wali-allah/
Para Wali Allah (kekasih Allah) adalah mereka yang telah mencapai muslim yang ihsan (muhsin/muhsinin) atau mereka yang telah berma’rifat.
Mereka yang menjalankan tasawuf dalam Islam adalah mereka yang memperjalankan dirinya kepada Allah atau mereka yang berupaya untuk mencapai muslim yang ihsan atau berma’rifat
Apakah Ihsan ?
قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11) Link:http://www.indoquran.com/index.php?surano=2&ayatno=3&action=display&option=com_muslim
Ada dua kondisi yang dicapai oleh muslim yang ihsan yakni
Kondisi minimal adalah mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla
Kondiri terbaik adalah mereka yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati (ain bashiroh)
Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,
“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”
Muslim yang merasa diawasi Allah -Maha Agung sifatNya atau mereka yang dapat melihat Rabb atau muslim yang Ihsan maka ia mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya, Sehingga terwujud dalam berakhlakul karimah. Inilah tujuan Rasulullah diutus oleh Allah ta’ala
Rasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).
Jadi kalau ada yang mengaku-aku telah menjalankan tasawuf atau mengikuti tharikat atau mengaku-aku telah berma’rifat namun tidak menjalankan perkara syari’at seperti sholat lima waktu maka bisa dipastikan dia telah berdusta atau tharikat yang diikuti adalah thariqat palsu.
Berkata Imam Abu Yazid al Busthami yang artinya, “Kalau kamu melihat seseorang yang diberi keramat sampai ia terbang di udara, jangan kamu tertarik kepadanya, kecuali kalau ia melaksanakan suruhan agama dan menghentikan larangan agama dan membayarkan sekalian kewajiban syari’at”
Pendapat syaikh Abu Al Hasan Asy-Syadzili, ” Jika pendapat atau temuanmu bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits, maka tetaplah berpegang dengan hal-hal yang ada pada Al-Qur’an dan Hadits. Dengan demikian engkau tidak akan menerima resiko dalam penemuanmu, sebab dalam masalah seperti itu tidak ada ilham atau musyahadah, kecuali setelah bersesuaian dengan Al-Qur’an dan Hadits“.
Nasihat Imam Syafi’i ra,
“Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih (perkara syariat) dan juga menjalani tasawuf (thariqat, hakikat dan ma’rifat) , dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.
Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik (muslim yang ihsan) ? [Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]
Nasehat Imam Malik ra
“Dia yang sedang Tasawuf tanpa mempelajari fikih rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia . Hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar”
Wassalam
Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830
http://myquran.
Friday, December 09, 2011
Cara camne nak belajar ilmu ghaib .
Zikir Untuk Memohon Seseorang Mengajar Ilmu Ghaib
Bismillahirrahmanirrahim
Dengan nama ALLAH pak cik mulakan post. Alhamdulillah, masih ada kesempatan pada pak cik untuk update blog. Sekarang ni pak cik agak sebuk sikit sebab dah mula kawad pagi petang siang malam. Sampai melecet2 kelengkang pak cik ni haa, Sakit woo.. Sedey giler. Hari ni da 10 plaster pak cik pakai sebab nak kasi selesa.
Jadi, maafkan pak cik sebab tak dapat bercanda dengan korang lama2. Sebab musim kawad ni memang memaksa 110 percent tenaga dan membuat pak cik cepat sangat pewai. Jadi, hari ni pak cik nak ajarkan sebuah cara camne nak belajar ilmu ghaib .
“Baca lah asma ALLAH, “Ya Khobiru” sebanyak 800 kali. Nanti jika ada rezeki, akan ada seseorang seperti bentuk manusia akan mengajar korang mengenai ilmu ghaib”.
Terima kasih kerana terus membaca blog ni
Postedby : http://berkatrezeki.
Wednesday, December 07, 2011
Kenapa Menengadahkan Tangan ke Langit Ketika Berdoa?
Kenapa Menengadahkan Tangan ke Langit Ketika Berdoa?
Dimasukkan oleh IbnuNafisLabel: Soal Jawab Ibadah, Soal Jawab Untuk FahamOleh : Thoriq
Salah satu ulama Al Azhar, Al Muhaddits Syeikh Ahmad bin Shiddiq Al Ghumari Al Maghribi (1380 H) telah menyebutkan alasan kenapa disyariatkan menengadahkan tangan ke langit saat berdoa. Dalam beliau, Al Manhu Al Mathlubah fi Istihbabi Raf’i Al Yadaini fi Ad Du’a` ba’da As Shalawati Al Maktubah (hal.61), beliau mengatakan,
Salah satu ulama Al Azhar, Al Muhaddits Syeikh Ahmad bin Shiddiq Al Ghumari Al Maghribi (1380 H) telah menyebutkan alasan kenapa disyariatkan menengadahkan tangan ke langit saat berdoa. Dalam beliau, Al Manhu Al Mathlubah fi Istihbabi Raf’i Al Yadaini fi Ad Du’a` ba’da As Shalawati Al Maktubah (hal.61), beliau mengatakan,
”Jika ada yang mengatakan,’kalau Allah Ta’ala terbebas dari arah, lantas kenapa menengadahkan tangan ke langit saat berdoa?’”
Beliau menjawab pertanyaan itu dengan jawaban Imam At Thurthusi (529 H), ulama Malikiyah dari Iskandariyah, yang termaktub dalam Ithaf As Sadah Al Muttaqin, syarah Ihya Ulum Ad Din (5/34,35). Dalam jawaban itu, At Thurthusi memberikan dua jawaban:
Pertama:
Hal itu berkenaan dengan masalah ubudiyah, seperti menghadap kiblat saat melaksanakan shalat, dan meletakkan kening ke bumi saat sujud, yang juga mensucikan Allah dari tempat, baik itu Ka’bah maupun tempat sujud. Sehingga, seakan-akan langit merupakan kiblat saat berdoa.
Kedua :
Karena langit adalah tempat turunnya rizki, rahmat dan keberkahan, sebagaimana hujan turun dari langit ke bumi. Demikian pula, langit merupakan tempat para malaikat, dimana Allah memutuskan maka perintah itu tertuju kepada mereka, hingga mereka menurunkannya ke penduduk bumi. Ringkasnya, langit adalah tempat pelaksanaan keputusan, maka doa ditujukan ke langit.
Jawaban At Thurtusi di atas sejatinya merujuk kepada jawaban Al Qadhi Ibnu Qurai’ah (367 H), saat ditanya oleh Al Wazir Al Muhallabi (352 H), seorang menteri Baghdad yang amat dekat dengan para ulama. Dimana suatu saat Al Muhallabi menanyakan,
“Saya melihatmu menengadahkan tangan ke langit dan merendahkan kening ke bumi, di mana sebenarnya Dia (Allah Ta’ala)?
Ibnu Qurai’ah menjawab,
”Sesungguhnya kami menengadahkan tangan ke tempat-tempat turunnya rizki. Dan merendahkan kening-kening kami ke tempat berakhirnya jasad-jasad kami. Yang pertama untuk meminta rizki, yang ke dua untuk menghindari keburukan tempat kematian. Tidakkah engkau mendengar firman Allah Ta’ala (yang maknanya),”Dan di langit rizki kalian dan apa-apa yang dijanjikan.”(Ad Dzariayat: 22). Dan Allah Ta’ala berfirman (yang maknanya),
”Darinya Kami ciptakan kalian, dan padanya Kami kembalikan kalian.”(Thaha: 55).
_______________________
Dinukil dari Al Manhu Al Mathlubah fi Istihbabi Raf’i Al Yadaini fi Ad Du’a` ba’da As Shalawati Al Maktubah, Maktab Al Mathbu’at Al Islamiyah, cet 2 (2004) dengan tahqiq Syeikh Al Muhaddits Abdu Al Fattah Abu Ghuddah.
Sumber : Http://almanar.
Isbal - melabuhkan pakaian hingga menutupi jari kaki, ada ulamak yang mengatakan orang yang melabuhkan pakaian seperti itu adalah lambang orang yang sombong berjalan di muka bumi.
Tetapi ada juga ulamak yang mengatakan bahawa ia bergantung pada niat, sekiranya tujuannya untuk menyombong maka ia dilarang.
Keterangan dari ustaz al bakistani :
Dr ’Ali Jumaah pernah berkata bahawa ulama usul fiqh menyatakan, hukum yang lahir dari Nas, terbahagi kepada dua, iaitu ”Al-hukm Lizatih” dan ”Al-hukm lighairih”.
”Hukum lizatih” bermaksud, hukum yang sememangnya wujud pada diri atau zat sesuatu nas, seperti pengharaman arak, kewajipan solat, berpuasa dan sebagainya.
Adapun ”hukum lighairih” pula adalah, hukum yang difahami dari sudut yang lain, iaitu tidak memadai dengan merujuk kepada sesuatu nas sahaja, seperti hukum pengharaman terhadap memakai pakaian yang labuh sehingga menutup buku lali.
Merujuk kepada hadis-hadis nabi SAW, didapati bahawa Nabi SAW melarang memakai pakaian yang labuh sehingga menutup buku lali. Antara hadis tersebut adalah;
لَا يَنْظُرُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى مَنْ يَجُرُّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ
Maksudnya;
”Pada hari kiamat nanti, Allah tidak akan melihat mereka yang melabuhkan pakaiannya dalam keadaan sombong” (Muwatta’ : 1425)
Dari sudut ”hukum Lizatih”, daripada hadis ini, maka ulama mengeluarkan hukum bahawa haram memakai pakaian yang labuh sehingga menutup buku lali. Pun begitu, jika difahami hadis ini dari sudut ”Al-Hukm Lighairih”, pengharaman itu bukanlah dari sudut semata-mata melabuhkan pakaian, tetapi pengharaman itu bersebab wujudnya unsur sombong dikala memakai pakaian yang labuh.
Justeru itu, ulama menyatakan, keharaman melabuhkan pakaian bukannya bersifat mutlak, tetapi bersifat ”Lighairih” iaitu pengharaman yang mempunyai ”sebab”, iaitu ”sombong”.
Dengan itu, apabila seseorang memakai pakaian yang labuh sehingga menutup buku lali, tetapi tidak terdapat unsur sombong, maka ketika itu, hukumnya tidak haram.
Diterangkan juga di dalam laman web era muslim :
dan ada juga hadith yang menyentuh mengenai isbal ini iaitu :
“Siapa yang memanjangkan pakaiannya karena khaila’(karena sombong dan bangga diri), Allah tidak melihatnya pada hari kiamat.” Abu Bakar As-Shiddiq ra berkata, “Ya Rasulullah, kainku ini longgar namun aku tetap menjaganya.” Rasulullah SAW bersabda,”Kamu bukan termasuk orang yang sombong dan bangga diri.” (HR Bukhari dan Muslim)
WaLlahua'lam
Sumber : http://www.eramuslim.
Tetapi ada juga ulamak yang mengatakan bahawa ia bergantung pada niat, sekiranya tujuannya untuk menyombong maka ia dilarang.
Keterangan dari ustaz al bakistani :
Dr ’Ali Jumaah pernah berkata bahawa ulama usul fiqh menyatakan, hukum yang lahir dari Nas, terbahagi kepada dua, iaitu ”Al-hukm Lizatih” dan ”Al-hukm lighairih”.
”Hukum lizatih” bermaksud, hukum yang sememangnya wujud pada diri atau zat sesuatu nas, seperti pengharaman arak, kewajipan solat, berpuasa dan sebagainya.
Adapun ”hukum lighairih” pula adalah, hukum yang difahami dari sudut yang lain, iaitu tidak memadai dengan merujuk kepada sesuatu nas sahaja, seperti hukum pengharaman terhadap memakai pakaian yang labuh sehingga menutup buku lali.
Merujuk kepada hadis-hadis nabi SAW, didapati bahawa Nabi SAW melarang memakai pakaian yang labuh sehingga menutup buku lali. Antara hadis tersebut adalah;
لَا يَنْظُرُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى مَنْ يَجُرُّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ
Maksudnya;
”Pada hari kiamat nanti, Allah tidak akan melihat mereka yang melabuhkan pakaiannya dalam keadaan sombong” (Muwatta’ : 1425)
Dari sudut ”hukum Lizatih”, daripada hadis ini, maka ulama mengeluarkan hukum bahawa haram memakai pakaian yang labuh sehingga menutup buku lali. Pun begitu, jika difahami hadis ini dari sudut ”Al-Hukm Lighairih”, pengharaman itu bukanlah dari sudut semata-mata melabuhkan pakaian, tetapi pengharaman itu bersebab wujudnya unsur sombong dikala memakai pakaian yang labuh.
Justeru itu, ulama menyatakan, keharaman melabuhkan pakaian bukannya bersifat mutlak, tetapi bersifat ”Lighairih” iaitu pengharaman yang mempunyai ”sebab”, iaitu ”sombong”.
Dengan itu, apabila seseorang memakai pakaian yang labuh sehingga menutup buku lali, tetapi tidak terdapat unsur sombong, maka ketika itu, hukumnya tidak haram.
Diterangkan juga di dalam laman web era muslim :
dan ada juga hadith yang menyentuh mengenai isbal ini iaitu :
“Siapa yang memanjangkan pakaiannya karena khaila’(karena sombong dan bangga diri), Allah tidak melihatnya pada hari kiamat.” Abu Bakar As-Shiddiq ra berkata, “Ya Rasulullah, kainku ini longgar namun aku tetap menjaganya.” Rasulullah SAW bersabda,”Kamu bukan termasuk orang yang sombong dan bangga diri.” (HR Bukhari dan Muslim)
WaLlahua'lam
Sumber : http://www.eramuslim.
Subscribe to:
Posts (Atom)