Ya Allah, Atas KemuliaanMu,KeagunganMu dan Belas EhsanMu limpahkan lah hidayahMu kepada kami,semuga kami semua berjumpa dengan sebenar-benar jalan untuk kami pulang kesisiMu........


Fekah tanpa tasauf fasik,Tasauf tanpa fekah zindiq

Thursday, June 02, 2011

Puasa: Syariat, Tarekat, dan Hakikat

Wisata Akal
Puasa: Syariat, Tarekat, dan Hakikat
Alkisah seorang muslim yang hidup setelah masa Khulafa ar-Rasyidun (sebut saja namanya Fulan). Ia pada masa itu dikenal ahli ibadah yang tinggal di serambi Masjid Nabawi. Ia hampir tiap hari melakukan i'tikaf, dzikir, shalat dan ibadah lainnya. Ia jarang ke luar karena penglihatannya tidak normal alias buta.

Suatu hari datang kabar bahwa temannya sakit keras. Kemudian ia menengoknya dengan diantarkan sahabatnya yang lain. Ketika tiba, temannya itu meminta ia untuk berdoa demi kesembuhannya. Karena itulah setiap selesai shalat ia mendoakannya. Ajaibnya, beberapa hari setelah kunjungan itu temannya sembuh.

Atas kesembuhan itulah ia dinilai sebagai wali yang dapat menyembuhkan orang dengan doa. Karena alasan itu pula banyak orang yang meminta didoakan olehnya. Tiap orang yang meminta doa kepadanya senantiasa terkabulkan. Sampailah suatu hari seorang teman berbicara kepadanya, "Fulan, doa-doamu itu sangat mujarab dan benar-benar dikabulkan Allah. Tapi aku heran kenapa engkau tidak berdoa untuk kesembuhan matamu sendiri." 

Ditanya seperti itu Fulan menjawab, "Tidak, aku tidak ingin melakukan sesuatu yang menguntungkan diriku sendiri. Aku merasa beruntung karena kecacatanku ini telah mendekatkan aku kepada Allah. Dan kemungkinan besar bila mataku normal pasti akan lebih banyak terjerumus dalam kemaksiatan dibandingkan ketaatan."

Demikian kisah yang cukup luar biasa. Penderitaan yang ada pada kisah di atas menjadi salah satu alat untuk memasrahkan diri kepada Allah. Sebuah cara pandang yang muncul atas nurani yang jarang kita temukan di lingkungan masyarakat. Di zaman modern ini sangat jarang orang yang mau bersyukur dengan ketentuan yang ditetapkan sebagai takdir Allah. Banyak yang tidak bisa menerima keberadaan dirinya yang serba kurang, atau yang  berbeda jauh dengan orang lain. Banyak orang normal, tapi lupa kepada Allah dan cenderung tidak menghiraukan perintah dan larangan-Nya.

Kita juga sering melihat banyak orang Islam yang tidak mengikuti aturan-aturan Allah, tidak berpuasa misalnya. Mereka sering menganggap bahwa dengan puasa dirinya sedang diperas, dihambat dan diperdaya. Mereka tidak paham bahwa dengan puasa justru kita dibersihkan dan disehatkan dari berbagai penyakit lahir maupun batin. Dengan puasa kita dilatih jujur dan disiplin serta dilatih untuk peka terhadap sesama saudara kita yang mustadhafin (dhuafa). 

Bagaimana caranya supaya puasa kita mencapainya? Dalam literatur tasawuf, terutama al-Ghazali dan al-Qusyairi menyarankan berpuasa dalam tataran hakikat. Akan tetapi, tahapan hakikat ini tidak bisa begitu saja diraih, tapi harus bertahap dari fase syariat, tarekat, dan hakikat. Pada fase syariat ini seorang muslim harus paham dalil-dalil syari` dan hukum batal dan sahnya puasa. Kemudian, ia diharuskan untuk meningkatkan ke tingkat selanjutnya, yaitu tarekat. Selain puasa secara lahiriah (syariat) juga harus mempuasakan aspek batinnya. Seperti puasa mencela, memaki, bohong, bertengkar, atau tidak berimajinasi maupun berpikir tentang yang porno dan hal-hal nista atau yang dapat membuat rusaknya nilai puasa, serta tidak meninggalkan ibadah-ibadah wajib dan sunah yang rutin dikerjakan.

Jadi, pada fase tarekat, seorang muslim dituntut untuk lebih kreatif dan produktif dengan meningkatkan amalan-amalan lainnya. Apabila seorang muslim tetap istiqamah dalam kedua fase tersebut maka ia sedang menuju tangga hakikat. Karena itu, seseorang yang sedang menuju fase hakikat harus mampu merasakan dengan kesadaran penuh bahwa dengan puasa ia sebenarnya sedang berhubungan dengan Allah SWT. Sehingga apa pun yang dikerjakan dan dilakukan, baik ketika berpuasa maupun saat di luar ibadah puasa, senantiasa merasa dijaga dan diawasi Allah. Inilah yang dimaksud berada dalam tataran hakikat.

Pendeknya, puasa secara syariat adalah khidmatullah. Secara tarekat adalah qurbatullah. Secara hakikat ialah penggabungan diri dengan Allah (wushlatullah). Mereka yang bisa bergabung dengan Allah adalah mereka yang suci dan kembali pada fitrah Ilahi. Orang yang termasuk kategori tersebut layak disebut muttaqin (orang bertaqwa). Bukankah tujuan puasa Ramadhan agar manusia menjadi bertaqwa? Karena itu, puasa Ramadhan bukan hanya menjalankan syariat, tetapi juga untuk mengembalikan kita pada fitrah kesucian. Bagi mereka yang mensucikan diri (tazkiyatun nafs) adalah yang pantas untuk sampai pada Idul Fitri.         
                
Menjalankan aturan Allah dengan penuh keikhlasan akan meninggikan kita menuju menjadi manusia yang sempurna. Yakni manusia yang tidak lagi bergantung kepada sesuatu yang lain-baik itu materi maupun jabatan sosial-karena segala keperluaannya telah dipenuhi dan dijamin Allah Yang Maha Sempurna. Allah SWT berfirman, "Dia telah memberikan kepadamu segala keperluan dari apa-apa yang kamu mohonkan. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah maka tidak akan dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan ingkar." (QS Ibrahim [14]: 34) (Ahmad Sahidin, editor Penebit Salamadani Bandung dan penulis buku)



PUASA HAKIKAT

PUASA HAKIKAT

Puasa Hakekat, Puasa Tarekat, Puasa Syariat

Materi Khutbah Tarawih, disadur dari Buku Madrasah Ruhaniah, karangan Jalaluddin Rahmat

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wabarakatuh
Ibu-Ibu, Bapak-bapak, adik-adik dan hadirin sekalian yang saya muliakan.
Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah serta kesehatan kepada kita semua sehingga kita masih bisa menjalankan ibadah puasa Ramadhan hingga memasuki hari yang ke 14 ini. Mudah-mudahan kita tetap diberi kekuatan sehingga dapat menyelesaikan ibadah shaum Ramadhan ini sampai selesai dengan sebaik-baiknya.
Shalawat dan salam kita haturkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW yang telah memberikan suri tauladan kehidupan berahlak mulia kepada kita semua untuk mencapai ridha Allah SWT.
Pada kesempatan ini ijinkan saya untuk menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan ibadah puasa yang sedang kita jalani in.
Hadirin sekalian,
Hakikat Puasa adalah Tunduk pada Kehendak Illahi. Nabi Muhammad Saw bersabda : “ Semua amal anak adam dilipat gandakan. Kebaikan dilipat gandakan sepuluh sampai seratus kali, kecuali puasa, kata Tuhan. Puasa untuk Aku, dan Aku yang akan memberikan pahalanya. Orang yang berpuasa meninggalkan keinginannya dan makanannnya hanya untuk Aku. Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan : kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika ia berjumpa dengan Tuhannya  (Al Bukhari dan Muslim)
Jadi hakikat puasa, menurut Nabi SAW adalah meninggalkan semua keinginannya selain untuk menjalankan perintah Tuhan, menanggalkan kehendak dirinya dan menjalankan kehendak Ilahi.
Dalam puasa, kecenderungan jiwa hewani untuk memberontak perlahan-lahan ditenangkan dan dijinakkan melalui penaklukan kecenderungan secara sistematis pada kehendak Illahi. Setiap saat merasakan lapar, jiwa seorang muslim diingatkan bahwa demi mematuhi perintah Illahi, gejolak jiwa hewani harus dikesampingkan. Itulah sebabnya puasa tidak hanya menahan diri dari makan dan minum saja, tetapi juga menahan diri dari semua dorongan nafsu.
Sebagai akibat dari pengendalian sistematis ini, jiwa manusia menjadi sadar bahwa ia tidak bergantung pada lingkungan alam di sekitarnya. Ia sadar bahwa ia berada di dunia tetapi bukan bagian darinya. Orang yang berpuasa dengan penuh keimanan segera menyadari bahwa ia hanyalah peziarah di dunia ini dan ia diciptakan sebagai mahluk yang ditakdirkan mencapai tujuan di seberang wujud yang material ini.
Lebih jauh lagi, sifat segala sesuatu yang semula kosong dan fana sekarang muncul sebagai anugerah Illahi. Makan dan minum yang kita anggap sebagai hal yang biasa sepanjang tahun, pada waktu puasa tampak sebagai karunia dari surga (ni’mah) dan mencapai makna ruhaniah seperti sebuah sakramen. Berpuasa adalah memakai perisai kesucian dalam menghadapi hawa nafsu dunia.
Alhasil, hanya puasa dengan hakikatnya, puasa dengan ruhnya, yang akan menjadi sumber kekuatan muslim dalam menghadapi gelombang kehidupan. Ketika ia berpuasa sebenarnya, yakni menundukkan seluruh dirinya pada kehendak Illahi, ia menyerap tenaga yang tak terhingga. Puasa menjadi sumber energi untuk membersihkan jiwa dan raganya. Meniadakan diri dan menenggelamkan diri pada yang Maha Kuasa adalah hakikat puasa.
Sebelum mencapai hakikat puasa, seorang muslim harus menjalankan tarekat puasa. Di sini dia mengendalikan semua  alat inderanya -yang lahir dan batin- dari melakukan hal-hal yang tidak dikehendaki Tuhan. Ia tidak saja mengendalikan mulutnya dari menyebarkan gossip, intrik, makian, dan ancaman; tetapi juga ia mengendalikan daya khayalnya dari rencana jahat atau niat buruk. Ia tidak saja menutup mata lahirnya dari pandangan yang dilarang Tuhan; tetapi juga menutup daya pikirnya dari melakukan kelicikan, pengkhianatan, dan penyelewengan.
Jauh sebelum sampai ke tarekat puasa, seorang Muslim tentu saja harus memenuhi syariat puasa – paling tidak, menahan untuk makan, minum dan seks sejak terbit fajar sampai tenggelam matahari.
Pada tingkat syariatpun, para ahli fiqih menegaskan bahwa puasa harus disertai dengan niat yang berdasarkan keimanan dan keinginan untuk mememperoleh ridha Tuhan. Tanpa imanan wahti saban, puasa kita tidak sah. Jadi termasuk yang menentukan sah-tidaknya puasa adalah niat. “Sesungguhnya semua amal itu bergantung pada niatnya”, sabda Nabi Saw yang dikutip Bukhari sebagai hadis pertama dalam kumpulan hadisnya.
Berdasarkan niatnya ada dua macam puasa. Pertama, puasa yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dirinya di atas kebutuhan untuk mendapatkan ridha dan ampunan Tuhan. Kedua, puasa yang dilakukan untuk memperoleh Ridha Tuhan di atas kebutuhan dirinya. Secara syariat, yang pertama dihitung tidak sah. Secara psikologis, ia juga dianggap sebagai sebuah cara beragama yang tidak dewasa.
Orang yang menikmati puasanya, hanyalah orang yang melakukan puasa karena keimanan dan karena memenuhi kehendak Illahi – imanan wahtisaban. Inilah puasa yang difirmankan Tuhan : Puasa hanyalah untuk Aku dan Aku sendiri yang akan memberikan pahalanya. Artinya pada dasarnya tidak ada yang tahu bahwa seseorang berpuasa, selain Allah (dan dirinya sendiri). Seseorang tidak perlu khawatir kalau orang lain tidak mengetahui bahwa dia berpuasa, karena Tuhan selalu mengetahuinya.
Selanjutnya, Puasa yang dilakukan bukan untuk Tuhan adalah puasa tanpa jiwa. Bentuk tanpa jiwa hanyalah khayalan hampa.
Rasulullah SAW bersaba, “Syariat itu ucapanku, tarekat perbuatanku, dan hakekat adalah keadaanku”. Dengan merujuk pada sabda-sabdanya, kita melakukan berbagai ketaatan. Kita lakukan puasa kita dengan berpegang pada sabda nabi. Kita mengikuti petunjuk nabi dalam bersahur, berpuasa, berbuka, dan berdoa di malam hari. Inilah ketaatan yang paling mendasar, bagian terluar dari ajaran Islam. Inilah syariat. Ketika kita mencoba menerapkan perilaku nabi dalam perilaku kita, ketia puasa Nabi juga menjadi puasa kita, kita memasuki ketaatann yang lebih mendalam. Inilah tarekat. Ketika kita menyaksikan apa yang disaksikan nabi Saw, ketika tirai yang menutup mata kita dibukakan, kita memasuki wilayah hakikat.
Syariat, tarekat, dan hakekat tidak bisa dipisahkan. Ketiganya berjalin berurutan. Tidak mungkin mencapai hakikat tanpa tarekat. Tidak mungkin mempraktekkan tarekat tanpa syariat.
Demikian uraian singkat yang bisa saya sampaikan malah ini. Mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua. Semoga kita dapat menjalankan ibadah puasa ini dengan sebaik-baiknya. Semoga dengan ibadah puasa ini kita dapat mencapai tujuan puasa yaitu mencapai derajat taqwa yang setinggi-tingginya.
Billahit taufi wal hidayah, wassalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.